Membawa Semangat Kepahlawan Dalam Setiap Langkah Kita

Indonesia tanah air beta… Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala… Tetap di puja-puja bangsa.
Bait pertama dari lagu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki tersebut seharusnya sudah lebih dari cukup untuk mengetuk pintu hati kita dan memunculkan rasa bangga karena telah menjadi bagian dari negara Indonesia, tanah air tempat kita lahir, dibesarkan, berlindung, sampai akhirnya menutup mata.

Rasa nasionalisme kah? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata Nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Ya, lebih singkatnya adalah semangat kebangsaan.Lalu, apa dan bagaimana cara memunculkan rasa nasionalisme itu? Mengikuti upacara bendera setiap hari kah? Membanggakan produk-produk dalam negeri dengan menutup mata terhadap kemajuan dunia luar kah? Atau dengan mengibarkan sang saka merah putih sepanjang tahun?

Nasionalisme bukan sekedar dikata, tetapi juga dilakukan dan dirasa. Nasionalisme juga tidak bisa diukur dengan seberapa sering kita mengikuti upacara bendera, tetapi bagaimana kita menghargai jasa-jasa pahlawan kemerdekaan yang telah membawa kita pada suatu titik bernama kebebasan. Kebebasan untuk hidup merdeka, bebas dari belenggu penjajah yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, dan bebas untuk membela negara. Menghargai disini bisa dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kita serta membangkitkan semangat kepahlawan dalam diri kita untuk terus melanjutkan perjuangan pahlawan-pahlawan kemerdekaan kita terdahulu untuk mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera.

Pada tahun 2045 mendatang, Indonesia akan memasuki usia emas, yakni tepat 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu pada tahun tersebut usia kita?para pemuda Indonesia saat ini, sudah cukup matang dengan ilmu dan pengalaman. Saat ini seharusnya para pemuda Indonesia bisa menyikapi hal ini dengan positif, dengan cara membawa semangat kepahlawanan dimanapun dan kapanpun saat kita menuntut ilmu. Ilmu ini yang akan menjadi bekal kita untuk memajukan Indonesia dan menjadi pemimpin perdaban. Dengan ilmu kita bisa memberantas kebodohan. Dengan ilmu kita juga bisa memberantas kemiskinan. Dengan ilmu dan akhlak yang mulia mari persatukan Indonesia.

Suatu bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan-pahlawannya. Kita tidak boleh menutup mata atau telinga terhadap dunia luar. Kita harus tetap ‘waspada’ akan kemajuan negara-negara lain. Jika negara lain bisa, kenapa kita tidak? Seperti presiden pertama kita dulu, Ir. Soekarno, yang pernah menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia. Tuntutlah ilmu sampai Eropa dan Amerika kalau perlu. Orang yang belajar, bekerja, atau menetap di luar negeri bukanlah orang-orang yang sudah kehilangan rasa nasionalisme-nya. Mereka telah, tetap, dan akan terus mengabdi untuk Indonesia. Seperti contohnya yang sudah sangat kita kenal adalah mantan presiden ketiga kita, B.J. Habibie. Jika ingin menelusuri lebih rinci, kita akan menemukan bahwa ternyata telah banyak sekali yang telah dilakukan beliau untuk memajukan ibu pertiwi selama beliau menetap di Jerman.

Indonesia berdiri dengan bermacam-macam budaya, suku, dan ras. Kita?para pemuda, akan bersatu, berdiri berdampingan membentuk akar yang kokoh dengan modal ilmu pengetahuan dan akhlak mulia serta rasa nasionalisme yang mengalir dalam darah kita bersiap menyambut Indonesia emas dan menjadi pemimpin peradaban. Maka dari itu kita harus tetap belajar, belajar, dan belajar. Tak pandang usia, siapapun. Yang paling penting adalah rasa percaya diri. Optimis bahwa kita bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik. Tentunya dengan rasa persatuan dan kesatuan.

Pada akhirnya, 66 tahun sudah bangsa ini merdeka, semangat kebangsaan ini harus tetap kita tumbuhkan di benak kita, mengiringi setiap langkah dan tekad kita untuk menjadikan Indonesia kearah yang lebih baik. Satukan niat, bulatkan tekad, menuntut ilmu demi nusa, bangsa, dan agama. Dirgahayu Indonesia, majulah bangsaku, jayalah negriku! Merdeka!(frd)

*re-blog from my article on Shout! | Indonesian Youth Conference