Something Hasn't Previously Realized

Baru saja seorang teman bercerita kepada saya mengenai kisah hidup temannya. Kita anggap teman saya ini adalah si A dan teman dari teman saya adalah si B. Berikut adalah penuturan si A mengenai perjuangan hidup temannya.

B adalah seorang mahasiswa penerima bidik misi pemerintah yang kebetulan sekampus dengan saya. Dengan menjunjung rasa hormat, saya tidak menyebutkan jurusan/fakultas atau angkatan dari si B ini. B adalah seseorang yang pendiam, cukup pemalu, tapi pandai. B berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur. Sebagai penerima mahasiswa bidik misi, B mendapatkan jatah full biaya SPP tiap semester serta mendapat uang saku sebanyak 600 ribu per bulan. Selama merantau B tinggal di sebuah kost-an yang menurut si A ukurannya cuma sepetak, sangat amat sederhana, dan cukup panas. Kenapa A bisa berkata demikian? Karena A sudah pernah menginap di kost-an si B dan pada suatu saat bertanya, "kamu nggak kepanasan ta? (sambil kipas-kipas)", B pun menjawab, "nggak. udah biasa kok."

Dari uang saku yang didapat yakni 600 ribu per bulan, 200 ribu digunakan untuk membayar kost bulanan, jadi bersih kebutuhan makan dan lain-lain per bulannya si B hanya mendapat 400 ribu. Dan menurut si A, si B tiap kali makan mentargetkan hanya tiga sampai empat ribu per makan per harinya. Sering cuma makan nasi - sayur, kadang maksimal ditambah dadar jagung. Sekali lagi B menggangap kalau hal ini "sudah biasa". Praktis tiap bulannya B sama sekali tidak mendapat uang jajan dari orang tua. A mengatakan bahwa B tidak ingin merepotkan orang tua, maka dari itu ia juga jarang pulang kampung.

Pernah suatu saat si A menguji si B dengan berpura-pura tidak membawa uang saat makan siang, si A lantas bertanya kepada si B apakah dirinya bisa meminjamkan uang. Si B kemudian menjawab, "udah makan aja, pake duitku dulu", si A menjadi terkejut sekaligus kagum karena disaat mungkin duit si B terbatas, ia tetap mau meminjamkan uang kepada temannya. Sekali lagi ini menguji dengan maksud baik.

Sebelum si B membeli sepeda yang notabene adalah sepeda bekas menurut si A, B selalu jalan kaki dari kost-an ke kampus, dan ini serius lumayan jauh. Mata saya berkaca saat mendengar cerita ini. Saya sebelumnya belum pernah mendapati kejadian dari teman-teman di sekitar saya terdahulu. Padahal kita tahu bagaimana banyaknya kebutuhan seorang mahasiswa, seperti buku-buku atau fotokopi-an seambrek. Ini baru satu contoh mahasiswa. Masih banyak yang diluar yang masih kurang beruntung atau bahkan lebih buruk.

Saya nggak ngerti gimana kalo saya jadi dia. Saya nggak ngerti apakah saya bisa setegar dia, setangguh, dan se-wise dia. Yang pasti sekarang saya harus selalu banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang diberi oleh-Nya dan harus ikut prihatin dengan kondisi lingkungan sekitar. Pada dasarnya kita semua harus saling membantu kan? Karena mungkin suatu saat bahkan dari kondisi yang tidak terduga, orang yang pernah kita bantu itu akan balik membantu kita saat kita berada dalam kesulitan yang mungkin jauh lebih sulit.